Beberapa waktu yang lalu sepupu si aing bawa anak yang tinggal di daerah dia melaksanakan KKN, Ade Denis namanya. Katanya sih ingin bawa dia keliling Bandung, memperlihatkan Bandung dari sisi lain. Anak kecil, berpostur kecil dan suara kecil. Perkenalan pertama, oke, saya kaget, dia berbicara dengan lancar, padahal perkiraan paling dia berusia 5 atau 6 tahun. Salam dan menempelkan tangan saya ke keningnya, “Ade Denis” serunya. Senyum yang khas tersungging.
Oke, that’s weird. Dia bisa berbicara bahasa Sunda lemes dengan lancar. Aneh, padahal si sayah ge jigana moal bisa jiga kitu mah. Sekedar iseng, bertanya, ini berapa usianya?
Jawabannya, usia dia adalah 13 tahun dan duduk di kelas 6 SD.
Dengan tinggi badan yang lebih kurang hanya setengah meter, dan ukuran badan yang kecil.
Ternyata beberapa waktu sebelumnya, dia merupakan penderita anak dengan kepala besar, istilah kampungna hidrosefalus. Dan pertumbuhan badannya pun otomatis terganggu.
Tapi dia tersenyum. Khas. Dan membuat hati ini terasa miris.
Esoknya dia di bawa main, jalan-jalan di kota Bandung. Dan tempat yang ingin dia kunjungi adalah Gedung Sate. Yap, Gedung Sate. Gak tau kenapa, bukannya jalan-jalan ke mol atawa tempat rame lainnya, tapi Gedung Sate sebagai tempat pamungkas.
Selama mendengarkan dia mengobrol dengan orang rumah, tersirat dan tersurat, bahwa dia ingin sekali meneruskan pendidikannya sampai ke SMP. Semangatnya tidak terlihat pupus. Mengingat keadaannya. Dia tetap ingin sekolah.
Sedikit menyayat hati memang, jika membayangkan bagaimana nanti dia diterima, bagaimana pergaulannya, bagaimana dia bisa bertahan. Terkadang hal ini suka membuat hati bertanya-tanya, apa Dia Yang Maha Mengasihi dan Maha Penyayang ini tidak adil? Banyak yang tidak mensukuri nikmat-Nya, banyak yang tidak serius dalam mengecap pendidikan, banyak yang beruntung tapi gak tau untung dan bisa mendapatkan apa yang mereka mau dan tanpa mengalami masalah.
Tapi saya sadar, karena Yang Di Atas memang sangat mencintai kita.
Hanya saja, setiap kali melihat Ade Denis, senyumnya, keramahannya, kesopanannya hati ini selalu merasa sakit. Tapi juga merasa sedikit bangga, karena saya pernah dipertemukan dengan orang yang tetap memiliki semanga hidup. Menikmati hidup ini apa adanya.
Takdir sudah ditentukan, tinggal bagaimana kita memenuhi takdir kita.
Seorang anak kecil dengan hati yang besar.
Ketika Sang Malam berlalu dengan senyumannya yang menggoda, Sang Bulan tertegun dan merenungkan semua kejadian tentang Malam ini. Indah, walaupun sesaat. Sang Malam telah memuaskan dahaga Sang Bulan akan sejuta rasa kenikmatan dan sejuta rasa keingintahuan.
Namun senyuman Sang Malam tetap membuat Sang Bulan merasakan kerinduan yang teramat sangat, menusuk hingga memenuhi seluruh rongga yang terdapat pada permukaan Sang Bulan.
“Malam ini akan kurindu”, benak Sang Bulan berbisik. “Kurindu hingga ratusan tahun revolusiku”.
Namun Malam ini adalah Malam yang singkat. Indah, bahagia, namun singkat.
Sang Bulan menguatkan diri untuk mampu berpisah dengan Sang Malam, kembali pucat di atas langit yang luas.Sepi, Sang Bulan merasa. “Sinarku apa akan dapat dirasakan di lain waktu?” selalu Sang Bulan berfikir.Seolah semua telah hilang, hampa Sang Bulan merasa, tarikan Sang Bumi pun tak diabaikan, tugasnya pun tak dilirik. Bahkan Sang Laut pun sudah merindukan kawannya Pasang. Namun Sang Bulan tetap tertegun dalam kehampaan.Khayalan selalu datang menggelitik asa dan sanubari Sang Bulan, mimpi selalu menonjok semua yang nyata dari evolusinya. Semu dan kasat mata, bayangan masa lalu akan Sang Malam datang selalu pada saat yang tak terduga. Bahkan ketika Sang Bulan bersinar dengan indahnya
Sering Sang Bulan melamunkan siapa yang akan menemani dirinya menerangi Sang Bumi dalam kegelapan, siapa yang akan menahan dan menopang dirinya. Seolah suara alam sakitar dan seluruh kosmos alam semesta lenyap ditelan lubang hampa yang tercipta, Sang Bulan merasa kesepian yang amat sangat. Kesepian yang hanya dirasakan oleh sebuah bintang kecil di ujung galaxy yang hanya ditemani sebuah asteroid kecil dalam kegelapan alam semesta. Semua rasa indah, nikmat, puas dan bahagia yang ia lalui bersama Sang Malam seolah merupakan sesuatu yang jaraknya triliunan cahaya dari inti Sang Bulan. Sang Malam begitu berbekas di hati Sang Bulan.Semua seperti akan hilang, lenyap, ditelan kehampaan yang sombong.
Namun, satu sosok berseru pada Sang Bulan, “Saya, saya bisa menemanimu, bisa menjadi tempat berpijakmu untuk kembali bersinar, memujamu dan dipuja olehmu”. Sang Bulan tersenyum getir, berfikir bahwa itu tak mungkin, bahwa Sang Malam tak dapat digantikan. Sang Malam adalah absolut, pendamping Sang Bulan. Malam dan Bulan tak dapat dipisahkan. Namun Sang mentari berkata, “Tak ada yang sama, Sang Malam sudah tiada, namun apa yang kau rasa, keindahan, kenikmatan, kepuasan dan kebahagiaan, masih dapat kau rasa, walaupun tidak bersama Sang Malam. Lihatlah, Sang Siang pun bisa menemanimu, karena itu, siapapun bisa, dan karena itu pula, kau pun dapat kembali bersinar”.
Kemudian Sang Bulan melihat kepada sosok tadi, sesosok entitas yang berdiri mungil dihadapannya, dengan wajah polos dan apa adanya. “Saya yang akan menemanimu”, serunya, dan Sang Bulan tersenyum tak yakin, namun dia hanya bisa berharap dan mengingat, hanya bisa berdoa pada Sang Pencipta, bahwa dia, yang berdiri dihadapannya, dengan segala kerendahan hati dan jiwanya, dapat menemani dirinya melakukan tugasnya, memberikan cahaya dalam kegelapan.
“Ya…….. dan kaulah yang kupuja”.
1 Mei kemaren, para buruh di Indonesia dan seluruh dunia memperingati hari mereka. Hari Buruh. Mereka, terutama di Indonesia, menuntut perbaikan kehidupan, gaji, kesejahteraan, juga jaminan dari pemerintah untuk tidak ada PHK (yang mana bisa saya katakan cukup aneh, mengingat bahwa pemerintah sekalipun tidak bisa melihat masa depan).
Mereka turun ke jalan, berdemo ria dengan semangat juang 45, menuntut hak-hak mereka. Membawa ornamen yang unik, membakar poster pemimpin negara dan menghujat juga menyidir.
Bermodalkan kehidupan mereka yang kurang, mereka menuntut perbaikan hidup, karena UMR yang rata-rata di setiap kota adalah 800 ribu masih dianggap kecil, terlalu kecil malah. Belum lagi jaminan dari pemerintah bahwa mereka harus aman, jadi buruh tetap dan tidak terancam PHK, walopun keadaan keuangan perusahaan misalnya sedang kacau.
Selamat bagi para buruh yang gigih dan terus berjuang.
Tapi saya juga ingin menanamkan rasa semangat yang sama kepada semua guru honorer yang ada di negeri ini, dengan gaji rata-rata di bawah Rp. 500.000 atau bahkan ada yang di bawah Rp. 300.000, mari, kita terus berkarya demi anak bangsa, demi bangsa dan demi masa depan kelangsungan umat manusia. Semangat juang para buruh ketika berdemo di atas, mari kita tiru, dengan memberikan yang terbaik kepada anak didik kita, sehingga mereka nanti bisa berguna, bagi Nusa, Bangsa dan Agama.
Perang Bubat adalah salah satu tonggak sejarah yang sangat penting yang mewarnai perjalanan Nusantara. Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karir-nya yang gilang gemilang.
Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Utusan di kirim ke berbagai pelosok, dan salah satunya dari yang terpilih adalah Dyah Pitaloka.
Konon pula, ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.
{Read More}
Pernah ga kalian melihat kembali masa lalu dan menyesal sejadi-jadinya akan apa yg sudah hilang? Berkhayal dalam alunan mimpi akan kemungkinan yg bisa terjadi seandainya jika semua berbeda?
Pernah ga kalian merasa ingin berteriak sejadi-jadinya jika mengingat, melihat, mendengar, merasa, menyentuh, sesuatu yg ada di masa lalu?
Tidak ada kepastian dalam hidup ini, kita bisa berstrategi, berfikir 7x tentang langkah yg akan kita ambil, tp te2p, hidup ini selalu menyimpan kejutan.
Tapi kita musti bisa, mau dan harus ngalengkah, gak bisa terus2an ada di masa lalu.
Si eta ayeuna hidup senang, si eta ayeuna sukses, si eta geus kawin, si eta jadi dokter, si eta geus berhasil jd tukang beca, si eta jadi gelandangan profesional, si eta boga kabogoh geulis, si eta hirup makmur, si urang?
Padahal mereka itu adalah kawan, rekan, teman, sahabat, mantan kekasih atau rival dulu. Mereka memilih jalan yg berbeda. Tp apa kita pernah mikir, coba mun urang bareto begini-begitu, bakal jiga si eta, bakal jd jeung si eta, bakal tetep jeung si eta, bakal jd konglomerat kelas kakap.
Sebuah polemik tak berujung dan berdasar, sekalipun dengan rasa ikhlas seorang manusia biasa, hal tersebut yg ada di dalam ingatan kita, yg tak kan pernah hilang, bakalan keluar, keluar, keluar dan mengganggu.
Terutama bagi kalian yg merasa masa lalu dengan dia, masa lalu waktu begini, masa lalu waktu masih bisa, adalah masa-masa yang paling indah, pasti bakalan sulit untuk bisa di delete. Apa kudu di format? ato low level format?
Nya, apapun cara untuk dapet solusina, intina mah tetep, eta solusi moal papanggih, kecuali mun amnesia saumur-umur, hha.
Serius dah, bahkan ketika sekarang kita hidup bahagia dan mendapatkan apa yg dibutuhkan, hal di atas tadi bakalan tetep ngaganggu. Ngaganggu saat kita bisa terganggu, rapuh, lemah dan rentan.
Tapi serius, hirup mah jalan terus, terus dan terus. Tanpa harus takut bakalan enggeusan, da nu kudu dipikasieun mah, mun hirupna teu mimitian, jadi teu hirup pisan tah? heu. {Read More}
Si Via nanya ke saya td, “Apa klo qt ngdapetin sesuatu tu b’arti qt khlngan sesuatu?”
Sy jawab, itu salah, kebalikannya lah yg bener, kita harus kehilangan sesuatu tuk dapetin sesuatu.
———————————————————————————————————————-
Setiap Lebaran, kami sekeluarga kumpul. Dan seperti biasa, acara bagi2 uang Lebaran selalu berlangsung. Salah satu sepupu sy, katakan lah A (mun disebutkeun sieun indungna ngamuk, hhe), mendapatkan banyak uang, yg selalu dia simpan di dompet khusus. Kami biasa merayakan Lebaran di kota yg panas, Purwakarta, dan tentu saja, sebotol minuman segar dingin sangatlah menggoda. Ketika sepupu yg lain membeli sebotol minuman dingin, si A juga mau, dan dia meminta uang kepada ibunya. Namun ibunya berkata, “Pakai aja uang kamu.” Dan otomatis si A menolak. Hahahaha.
Perbincangan akan berlanjut dengan nasehat ibu, bahwa ini adalah semacam latihan. Bahwa yg kita miliki tidak ada yg abadi. Kita harus kehilangan sesuatu tuk dpetin sesuatu. Si A harus kehilangan uang untuk membeli minuman segar.
————————————————————————————————————————
Tapi semua gak sebatas seperti jual-beli biasa, pembeli kehilangan uang dan mendapatkan barang, penjual kehilangan barang dan mendapatkan uang. Semua sudah diatur sama BOS di atas, dengan dimensi waktu yg tek terbatas.
Contoh, seorang dosen sy dulu ketinggalan perahu untuk menyebrang ke pulau Jawa dan kuliah di salah satu PT ternama (ketinggalan gara-gara kurang ongkos,hehe), padahal dia sudah memiliki kursi disana.
Tapi setelah berhasil dapet duit, dia tetep ke kota Bandung ini, berjualan apa adanya, kuliah di salah satu PT ternama lainnya sambil berusaha. Mendapatkan penghasilan, jodoh dan pekerjaan selain sebagai polotisi, penemu juga dosen. Dia kehilangan waktu dan kesempatan. Tp mendapatkan banyak hal baik lainnya.
————————————————————————————————————————
Tp gimana kalo yg dipermasalahkan tetep, keu2h, soal kehilangan?
Barangkali kisah yg sy baca dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, bisa ngasih inspirasi.
Dikisahkan, seorang lelaki keluar dr pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah tujuan dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
{Read More}
Pernah gak merasa serba salah karena apa yg hendak kita lakukan itu adalah sesuati yang kurang, atau bahakan tidak baik? Apa coba batasannya? Bahwa sesuatu yg tidak baik itu bisa dianggap baik. Apakah hanya sebatas bahwa kita akan bahagia, kalo itu kita lakukan? Ato demi hajat hidup orang banyak?
Atawa hanya sekedar, kita suka aja, hha. “Dia udah punya co, tp sy suka dia. Hantem aja ah, teruskan, maju terus pantang mundur.” –> Ini salah atau benar? apakah baik atau tidak. Terlepas dari niat baik kita yg tulus menyayangi itu ce, tetep saja kita bakal berfikir bahwa tindakan ini kurang bijaksana. Karena walaupun kita menyukai seseorang yg sudah berpasangan dengan orang lain, dan berfikir untuk mendapatkannya, hey, pacaran kan bukan menikah, tetap saja ini kurang bijaksana. Tp akan terjadi komplikasi yang akut, jika ternyata si ce juga menyukai kita, nah loh, kita suka ama ce yg udah punya pacar, dan tidak bertepuk sebelah tangan. Hantem sajah, maju terus pantang mundur, MERDEKA. Tp tetep, kita bakal dicap perebut kekasih orang, kita bakal berfikir ‘gak enak’, dkk. Serba salah kan? Namun, jika itu adalah yg kita butuhkan, kenapa tidak? Kekasih pujaan hati, cahaya penerang hati yg gundah, wanita tercantik di dunia (setelah si mamah, hhe), si ayang, dll ……. lebay nya? hha. Sebelum jadian ama saya adalah kekasih seseorang.
Tp sy gak peduli, sy butuh dia, karena pada saat itu, hanya dia yg bisa menenangkan dan mengobati hati ini. Sy maju terus, dan keputusan ini tidak sy sesali sedikitpun. Karena sampai detik ini, sy merasa yakin, bahwa dia adalah tulang rusuk sy yg hilang. Pd waktu itu sy merasa perlu, amat sangat perlu, untuk mendapatkan dia. Untuk dapat saling mengisi, melengkapi dan menerangi hari-hari.
Dan saya menyimpulkan, walaupun terlihat tidak baik, terkesan tidak pada tempatnya, APA YANG DIPERLUKAN, TIDAK PERNAH TIDAK BIJAKSANA, WHAT IS NECESSARY IS NEVER UNWISE. Selama itu adalah hal yg amat sangat dibutuhkan, hal itu tidak bisa disebut tidak bijaksana. Salah mungkin, tp bijaksana. Bagaimana dgn kalian?
Beberapa waktu yg lalu, si sayah mengantar sang ibu ke dokter. Duduk di luar, di pinggir pintu, nyaman, diterpa angin sepoi-sepoi di tengah-tengah suhu Bandung yg semakin panas.
Ujung mata tiba-tiba menangkap sesosok manusia dengan buntelan yg banyak di bahu. Seorang tunawisma, berjalan menuju apotek. Melanjutkan lamunan, tiba-tiba si sayah disapa, si tunawisma, seorang ibu setengah baya, dengan pakaian kotor dan sobek di beberapa tempat, kotor, kumal dan kusam. Rambut ala penyanyi rege, tapi tanpa bundelan, yang rupanya di simpan di pojok.
Dia bertanya, “Permisi pak, apa ini rumahnya Ibu Dokter?”.
Tersenyum, baik di bibir dan dihati, sayah menjawab. “Ibu mau periksa? Ke dalam aja Bu.” Dia tertegun, dan membuat saya kembali mempersilahkan dia untuk masuk.
——————————————————————————————————
Setelah menunggu beberapa saat, sayah memutuskan masuk ke dalam, dan melihat si tunawisma tadi berbicara dengan FO, tentang obat yg dia terima (Pemeriksaan dan obat gratis). Tak lama, si tunawisma lalu keluar. Si FO menyuruh OB membersihkan kursi bekas si tunawisma diperiksa, wajarlah, karena dia benar-benar kotor.
Sayah ngobrol ama si mamah, setelah si tunawisma itu keluar untuk mendapatkan dia kembali ke dalam. Dia berkata ke pada FO, ada barangnya yg ketinggalan. Si FO menjelaskan dengan sabar, tidak ada, si tunawisma bilang mungkin di kamar mandi, si FO menjawab, bahwa si tunawisma gak ke kamar mandi. Lalu si FO bertanya, “Apa yang ketinggalan?” si tunawisma menjawab, jika dompetnya yang gak ada. Si FO meminta si tunawisma mencari lebih seksama, kemudian, benar saja, dompetnya ada di dalam salah satu saku si tunawisma, kemudian si tunawisma mengeluarkan selembar, mungkin lembar satu-satunya yang dia miliki dan di berikan kepada si FO, mungkin sebagai biaya pengobatan, yang, tentu saja, ditolak secara halus oleh si FO, “Gak usah bu, uang itu Ibu simpen saja.”
{Read More}
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada SMP/MTs,
SMA/MA, SMK/MAK*
− Mengoperasikan komputer personal dan periferalnya. (Mun teu bisa goblog)
− Merakit, menginstalasi, men-setup, memelihara dan melacak serta memecahkan masalah (troubleshooting) pada komputer personal.(Mun teu bisa belegug)
− Melakukan pemrograman komputer dengan salah satu bahasa pemrograman berorientasi objek. (Mun teu bisa tong hayang jadi guru, jadi murid weh)
− Mengolah kata (word processing) dengan komputer personal.(Mun teu bisa, balik deui ka SD)
− Mengolah lembar kerja (spreadsheet) dan grafik dengan komputer personal.(Mun teu bisa, balik deui ka SD)
− Mengelola pangkalan data (data base) dengan komputer personal atau komputer server. (Mun teu bisa tong hayang jadi guru, jadi murid weh)
− Membuat presentasi interaktif yang memenuhi kaidah komunikasi visual dan interpersonal. (Mun teu bisa belegug)
− Membuat media grafis dengan menggunakan perangkat lunak publikasi. (Mun teu bisa tong hayang jadi guru, jadi murid weh)
− Membuat dan memelihara jaringan komputer (kabel dan nirkabel). (Mun teu bisa goblog)
− Membuat dan memelihara situs laman (web). (Mun teu bisa tong ngaku orang IT)
− Menggunakan sarana telekomunikasi (telephone, mobilephone, faximile). (Ieu mun henteu balik deuih ka jaman batu)
− Membuat dan menggunakan media komunikasi, termasuk pemrosesan gambar, audio dan video. (Ieu mun henteu balik deuih ka jaman batu)
− Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam disiplin atau materi pembelajaran lain dan sebagai media komunikasi. (Mun teu make, nya nanaonnan jadi guru TIK)
− Mendesain dan mengelola lingkungan pembelajaran/sumber daya dengan memperhatikan standar kesehatan dan keselamatan. (Hahahahahahaha, hayoh, kita jadi mandor yang baik)
− Mengoperasikan perangkat keras dan perangkat lunak pendukung pembelajaran. (Mun teu bisa goblog)
− Memahami EULA (End User Licence Agreement) dan keterbatasan serta keluasan penggunaan perangkat lunak secara legal. (Tah, mun teu paham, hehehe, pasti semuana ge pura-pura paham nyak? Hahahahaha)
*Di tulis waktu saya putus ama sesorang dulu, sebalum saya mendapatkan sang pelengkap…….
1 + 1 = komplikasi akan artikulasi dari kehidupan yang penuh dengan chaos…..
Teori chaos, 0,000000000001 itu adalah berarti.
Tidak ada yg pasti dalam hidup ini teman, ketika kita mengucapkan arti kehidupan dengan sikap dan prilaku kita, dan menetapkan, bahwa apa yang pernah kita lakukan, dan kita lakukan lagi akan mendapatkan hasil yang sama. Itu = salah.
Sekali lagi, bahkan 0,000000000001 pun berpengaruh sangat besar. Sehingga kita tidak selalu bisa menganggap bahwa pilihan A akan selalu menghasilkan B. Selalu ada chaos dalam setiap pilihan yang kita ambil.
Makanya, selalu saya merasa marah, jika ada seseorang yang selalu memandang hidup secara logika dan bahwa hidup harus bisa dijelaskan dengan logika dan masa depan akan terlihat dengan logika pula.
Apa yang kita inginkan, harapkan dan impikan? yang pasti, jalani ajah dah, komplikasi akan sebuah langkah akan selalu terasa. Kesinergian antara hidup, chaos, dan artikulasi kita ketika kita bicara tentang filsuf kita akan hidup menjadi sebuah pertanyaan, akankah bisa di capai?
Kita memiliki pengalaman akan kehidupan, cara pandang kita akan kehidupan dan pendapat kita akan kehidupan. Semua dari kita adalah filsuf amatir wahai kawan, namun sedikit dari kita merasa, bahwa 99,99% kepastian yang kita dapatkan dari pengalaman dan pengamatan kita itu masih kurang 0,01%. Dan ini, kawan, sangatlah berarti, dan bisa mengubah hasil akhir dari langkah kita.
Karenanya 1 + 1 = komplikasi……….. karena kita akan selalu bertabrakan antara kepentingan, harapan dan impian. Baik kita dan ataupun maupun orang lain.
—————————————————————————————–
Kliatannya sayah dah mulai kurang fokus deh, nulis juga gak taw apa yg sayah tulis, lieur, wakakakakakakakaka……